TALENTAFM.COM — Memasuki usia ke-81, radio tetap menunjukkan eksistensinya sebagai salah satu pilar demokrasi dan ruang penting bagi masyarakat untuk memperoleh informasi, hiburan, sekaligus menyampaikan aspirasi.
Ketua Umum Persatuan Penyiar Radio Seluruh Indonesia (PERSIARI), Suwiryo, mengatakan momentum Hari Radio ke-81 harus menjadi pengingat bahwa radio bukan sekadar media konvensional, tetapi terus berkembang mengikuti perubahan teknologi dan perilaku masyarakat.
Mengusung tema “Suara Indonesia, Berdaulat, Adil dan Makmur”, menurut Suwiryo, radio memiliki tantangan sekaligus peluang besar di tengah perkembangan teknologi digital dan hadirnya berbagai platform baru.
ADVERTISEMENT
.
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Radio hari ini tidak lagi hanya hadir melalui frekuensi siaran. Para penyiar juga mampu memanfaatkan berbagai platform digital untuk memperluas jangkauan dan membangun kedekatan dengan audiens,” ujar Suwiryo.
Transformasi tersebut, lanjutnya, bahkan telah melahirkan perubahan identitas profesi penyiar. Penyiar radio kini tidak hanya dikenal sebagai broadcaster, tetapi juga berkembang menjadi content creator dan the real influencer karena memiliki kemampuan membangun komunikasi serta kedekatan dengan masyarakat melalui berbagai kanal digital.
Namun demikian, Suwiryo mengingatkan bahwa tantangan terbesar bukan hanya bagaimana penyiar beradaptasi dengan teknologi, tetapi juga bagaimana memastikan industri radio tetap memiliki ruang untuk tumbuh dan berdaulat.
“Semangat berdaulat, adil dan makmur menjadi sangat relevan ketika kita berbicara tentang masa depan industri penyiaran, termasuk dalam pembahasan RUU Penyiaran yang saat ini masih berproses di DPR,” katanya.
Menurut Suwiryo, kedaulatan lembaga penyiaran radio menjadi penting di tengah perubahan ekosistem media, khususnya dengan semakin kuatnya platform digital yang turut mengambil porsi besar dalam industri periklanan.
Kondisi tersebut, kata dia, perlu menjadi perhatian bersama agar lembaga penyiaran radio tetap memiliki kesempatan yang adil untuk berkembang dan menjalankan fungsi sosialnya sebagai media yang dekat dengan masyarakat.
“Radio menghadapi tantangan nyata, terutama dari sisi ekonomi dan periklanan. Ketika belanja iklan semakin banyak bergeser ke platform digital, industri radio membutuhkan ekosistem regulasi yang mampu memberikan ruang tumbuh secara adil,” ujar Suwiryo.
Meski demikian, PERSIARI mendorong seluruh insan radio untuk tidak melihat perkembangan digital sebagai ancaman semata. Sebaliknya, transformasi digital harus dimanfaatkan sebagai peluang untuk memperkuat eksistensi radio dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia.
Suwiryo mengajak seluruh penyiar, insan radio, pengelola lembaga penyiaran, serta para pelaku industri radio untuk terus beradaptasi dengan perkembangan teknologi.
“Jangan pernah kehilangan semangat. Radio harus terus beradaptasi, meningkatkan kemampuan, dan hadir di berbagai platform. Kita harus tetap menjadi suara Indonesia yang dekat dengan masyarakat,” tegasnya.
Ia berharap momentum Hari Radio ke-81 menjadi titik penguatan bagi seluruh ekosistem radio nasional untuk terus berinovasi, memperkuat industri, sekaligus mempertahankan peran radio sebagai media yang mencerdaskan dan merekatkan masyarakat.
“Suara Indonesia harus tetap hidup. Radio harus terus berdaulat, tumbuh secara adil, dan memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat,” pungkas Suwiryo.











